deepfake jelang oemilu 2024

Sumber Berita Hoax, Deepfake Jadi Ancaman Jelang Pemilu 2024  

Posted on

ZULUBAZEDulu black campaing menjelang pemilu adalah segelintir hal yang perlu diwaspadai para calon pemilih. Medianya juga sebatas tulisan atau foto yang direkayasa. Kini ancaman deepfake jelang pemilu menambah daftar panjang media penyebaran hoax, seperti apa bentuknya? Simak penjelasan lengkap di bawah.

Mengapa Deepfake Bisa Sangat Mengancam

Seiring berjalannya waktu, teknologi kecerdasan buatan semakin tidak masuk akal. Beberapa bulan lalu ada sebuah teknologi yang bisa menirukan suara seseorang.

Itu saja sudah cukup jadi ancaman jika digunakan untuk hal negatif, bagaimana jika wajah Anda juga bisa ditiru? Bukan dalam bentuk foto, Deepfake adalah teknologi yang bisa meniru wajah target dalam bentuk video.

Jadi, dengan sebuah teknologi, Anda bisa membuat sosok tertentu mengatakan apa yang ingin Anda katakan.

Biasanya dalam aplikasi atau teknologi AI deepfake, pelaku akan memasukkan foto target pada video dimana nantinya akan disebar. Saking realistisnya banyak orang sulit membedakan mana video asli hasil rekaman manusia tersebut, mana yang imitasi.

Fitur canggih itu bisa jadi ladang black campaing untuk menjatuhkan citra seorang tokoh, khususnya calon petinggi negara.

Pihak lawan bisa saja merekayasa sebuah adegan atau ucapan menggunakan AI ini. Target tujuannya adalah orang-orang awam dan biasanya tersebar dengan mudah di aplikasi chating seperti grup Whatsapp.

Dulu, mungkin jika bentuknya adalah tulisan atau foto banyak yang bisa menebak keasliannya. Tetapi bagaimana kalau “fitnah” nya berbentuk video serta audio buatan namun terdengar real?

Sebenarnya, kejahatan seperti ini bukan hanya bisa menimpa orang-orang di pertarungan politik saja. Masyarakat biasa seperti kita juga bisa terkena kejahatan dengan memanfaatkan teknologi AI.

Sebut saja video asusila, dimana pelakunya nampak seperti diri kita. Dengan kecanggihan teknologi, sebuah audio visual bisa dikombinasikan dengan foto.

Kejahatan seperti tersebut biasanya berujung pada pemerasan. Dimana jika korban tidak memberi sejumlah uang maka video asusila itu akan disebar. Tak jarang meski uang sudah diberikan, hasil rekayasa itu tetap disebar.

 

Contoh Kasus Di Lingkup Politik

Mungkin beberapa dari kita pernah melihat sebuah video dimana Barack Obama mengajak seluruh warga AS memilih Trump.

Padahal, jika ditelisik lebih jauh saat itu Obama berada di pihak Joe Biden, tidak mungkin mendukung rivalnya. Lihat kasusnya, bagaimana sebuah karya audio visual bisa begitu serupa dengan aslinya untuk mempengaruhi para pemilih dalam pemilu.

 

Solusi Kominfo Dalam Menghadapi Deepfake

Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah memprediksi konten deepfake akan menjamur jelang Pemilu 2024.

Melalui Usman Kansong sebagai Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik sudah mewanti-wanti platform media sosial. Deretan sosial media itu diminta untuk segera menghapus konten yang terindikasi hoax dan deepfake.

Alasannya, karena selama ini media-media tersebut paling cepat dalam urusan menyebarkan konten hoax.

Pihak Kominfo bahkan mengatakan akan membuat regulasi terkait hal tersebut. Sebab, Usman ingin ke depannya ketika ada hoax atau deepfake, bisa langsung terhapus dengan cepat. Hal tersebut sudah dikoordinasikan dengan seluruh platform media sosial, kata Usman.

 

Bagaimana Cara Mengenali Deepfake

Kalau dilihat sekilas, mungkin kita akan sulit membedakan seperti yang telah dibahas sebelumnya. Tetapi, bukan berarti tidak ada celah untuk waspada bukan?

Salah satu hal yang bisa kita cermati adalah bagaimana sosok dalam konten itu berkedip. Menurut penelitian, kedipan konten hasil AI cenderung kaku bahkan bagian mata akan sangat jarang berkedip.

Bisa juga dilihat dari bagian rambut, dimana hasil rekayasa potongan rambut akan terlihat meruncing atau jatuh pada wajah.

Ini karena teknologi sejenis cukup sulit diturunkan, sehingga titik-titik halus pada bagian wajah cenderung sulit diimitasi. Layaknya hasil editan, visual akan terlihat sangat kaku bahkan kasar dan tidak realistis.

Terakhir adalah pencahayaan, jika Anda menemukan sebuah konten dimana pencahayaannya berubah-ubah, tingkatkan kewaspadaan!

Sebab bisa jadi itu adalah konten deepfake atau tiruan yang mana pelakunya pasti memiliki tujuan tertentu.

3 hal di atas bisa sangat bermanfaat untuk Anda di masa-masa menjelang pemilu. Saat berita hoax dan deepfake bertebaran, Anda bisa lebih jeli menelaah sebelum percaya dengan informasinya. Tetaplah waspada dan jangan mudah menelan informasi bulat-bulat.

 

Lalu Apa yang Bisa Dilakukan Agar Tehindar Dari Deepfake

Satu-satunya cara adalah berhenti mengunggah foto pribadi ke akun sosial media tanpa alasan atau tujuan yang jelas.

Jangan jadikan sosial media, dimana jangkauannya sangat luas sebagai galeri pribadi Anda. tidak harus secara total, cobalah dengan tidak mengunggah foto atau video dimana wajah nampak sangat jelas.

Sebab kejahatan bisa hadir jika kita memberi celah untuknya masuk, maka mulai sekarang tutup semua kesempatan itu.

Mungkin langkah ini akan sangat sulit dilakukan oleh publik figur, tapi setidaknya kita sudah tahu bagaimana cara membentengi diri. Semisal memang terjadi pada tokoh-tokoh tertentu, kita bisa lakukan analisis menggunakan cara-cara di atas.

 

Dan itulah penjelasan mengenai mengapa ancaman deepfake jelang pemilu harus kita waspadai. Selain untuk penangkal agar tidak menyebarkan berita bohong, kita juga bisa lebih membentengi diri agar tidak jadi korban. (redaksi: visitorbet )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *